Logika Dasar Penangkal Syiah
Posted by Unknown
on Friday, February 7, 2014
1
Oleh: AM. Waskito*
10
LOGIKA DASAR akidah Syiah bisa diajukan sebagai bahan diskusi ke kalangan Syiah
dari level awam, sampai level ulama. Setidaknya, logika ini bisa dipakai
sebagai “anti virus” untuk menangkal propaganda dai-dai Syiah yang ingin
menyesatkan Ummat Islam dari jalan yang lurus.
Kalau
Anda berbicara dengan orang Syiah, atau ingin mengajak orang Syiah bertaubat
dari kesesatan, atau diajak berdebat oleh orang Syiah, atau Anda mulai
dipengaruhi dai-dai Syiah; coba kemukakan 10 LOGIKA DASAR di bawah ini.
Sehingga kita bisa membuktikan, bahwa ajaran mereka sesat dan tidak boleh
diikuti.
LOGIKA
1: “Nabi dan Ahlul Bait”
Tanyakan
kepada orang Syiah: “Apakah Anda mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?” Dia
pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok
akidah kami.” Kemudian tanyakan lagi: “Benarkah Anda sungguh-sungguh mencintai
Ahlul Bait Nabi?” Dia tentu akan menjawab: “Ya, demi Allah!”
Lalu
katakan kepada dia: “Ahlul Bait Nabi adalah anggota keluarga Nabi. Kalau orang
Syiah mengaku sangat mencintai Ahlul Bait Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai
sosok Nabi sendiri? Bukankah sosok Nabi Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam
lebih utama daripada Ahlul Bait-nya? Mengapa kaum Syiah sering membawa-bawa
nama Ahlul Bait, tetapi kemudian melupakan Nabi?”
Faktanya,
ajaran Syiah sangat didominasi oleh perkataan-perkataan yang katanya bersumber
dari Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka. Kalau Syiah
benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah
Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau. Syiah memuliakan Ahlul Bait karena
mereka memiliki hubungan dekat dengan Nabi. Kenyataan ini kalau digambarkan
seperti: “Lebih memilih kulit rambutan daripada daging buahnya.”
LOGIKA
2: “Ahlul Bait dan Isteri Nabi”
Tanyakan
kepada orang Syiah: “Siapa saja yang termasuk golongan Ahlul Bait Nabi?” Nanti
dia akan menjawab: “Ahlul Bait Nabi adalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan
anak-cucu mereka.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana dengan isteri-isteri Nabi
seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain?
Mereka termasuk Ahlul Bait atau bukan?” Dia akan mengemukakan dalil, bahwa
Ahlul Bait Nabi hanyalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.
Kemudian
tanyakan kepada orang itu: “Bagaimana bisa Anda memasukkan keponakan Nabi (Ali)
sebagai bagian dari Ahlul Bait, sementara isteri-isteri Nabi tidak dianggap
Ahlul Bait? Bagaimana bisa cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah
dimasukkan Ahlul Bait, sementara isteri-isteri yang biasa tidur seranjang
bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa Fathimah lahir ke dunia,
jika tidak melalui isteri Nabi, yaitu Khadijah Radhiyallahu ‘Anha? Bagaimana
bisa Hasan dan Husein lahir ke dunia, kalau tidak melalui isteri Ali, yaitu
Fathimah? Tanpa keberadaan para isteri shalihah ini, tidak akan ada yang
disebut Ahlul Bait Nabi.”
Faktanya,
dalam Surat Al Ahzab ayat 33 disebutkan: “Innama yuridullahu li yudzhiba
‘ankumul rijsa ahlal baiti wa yuthah-hirakum that-hira.” (bahwasanya Allah
menginginkan menghilangkan dosa dari kalian, para ahlul bait, dan mensucikan
kalian sesuci-sucinya). Dalam ayat ini isteri-isteri Nabi masuk kategori Ahlul
Bait, menurut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan selama hidupnya, mereka
mendapat sebutan Ummul Mu’minin (ibunda orang-orang Mukmin) Radhiyallahu
‘Anhunna.
LOGIKA
3: “Islam dan Sahabat”
Tanyakan
kepada orang Syiah: “Apakah Anda beragama Islam?” Maka dia akan menjawab dengan
penuh keyakinan: “Tentu saja, kami adalah Islam. Kami ini Muslim.” Lalu
tanyakan lagi ke dia: “Bagaimana cara Islam sampai Anda, sehingga Anda menjadi
seorang Muslim?” Maka orang itu akan menerangkan tentang silsilah dakwah Islam.
Dimulai dari Rasulullah, lalu para Shahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi’in
dan Tabi’ut Tabi’in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu
disebarkan oleh para dai ke seluruh dunia, hingga sampai kepada kita di
Indonesia.”
Kemudian
tanyakan ke dia: “Jika Anda mempercayai silsilah dakwah Islam itu, mengapa Anda
sangat membenci para Shahabat, mengutuk mereka, atau menghina mereka secara
keji? Bukankah Anda mengaku Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita
melewati tangan para Shahabat itu. Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa
peranan Shahabat. Jika demikian, mengapa orang Syiah suka mengutuk, melaknat,
dan mencaci-maki para Shahabat?”
Faktanya,
kaum Syiah sangat membingungkan. Mereka mencaci-maki para Shahabat Radhiyallahu
‘Anhum dengan sangat keji. Tetapi di sisi lain, mereka masih mengaku sebagai
Muslim. Kalau memang benci Shahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label
Muslim. Sebuah adagium yang harus selalu diingat: “Tidak ada Islam, tanpa
peranan para Shahabat!”
LOGIKA
4: “Seputar Imam Syiah”
Tanyakan
kepada orang Syiah: “Apakah Anda meyakini adanya imam dalam agama?” Dia pasti
akan menjawab: “Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami.” Lalu
tanyakan lagi: “Siapa saja imam-imam yang Anda yakini sebagai panutan dalam
agama?” Maka mereka akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syiah. Ada juga yang
menyebut 7 nama imam (versi Ja’fariyyah).
Lalu
tanyakan kepada orang Syiah itu: “Mengapa dari ke-12 imam Syiah itu tidak
tercantum nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali?
Mengapa nama empat imam itu tidak masuk dalam deretan 12 imam Syiah? Apakah
orang Syiah meragukan keilmuan empat imam madzhab tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan
empat imam madzhab tidak sepadan dengan 12 imam Syiah?”
Faktanya,
kaum Syiah tidak mengakui empat imam madzhab sebagai bagian dari imam-imam
mereka. Kaum Syiah memiliki silsilah keimaman sendiri. Terkenal dengan sebutan
“Imam 12” atau Imamah Itsna Asyari. Hal ini merupakan bukti besar, bahwa Syiah
bukan Ahlus Sunnah. Semua Ahlus Sunnah di muka bumi sudah sepakat tentang
keimaman empat Imam tersebut. Para ahli ilmu sudah mafhum, jika disebut Al Imam
Al Arba’ah, maka yang dimaksud adalah empat imam madzhab rahimahumullah.
LOGIKA
5: “Allah dan Imam Syiah”
Tanyakan
kepada orang Syiah: “Siapa yang lebih Anda taati, Allah Ta’ala atau imam
Syiah?” Tentu dia akan akan menjawab: “Jelas kami lebih taat kepada Allah.”
Lalu tanyakan lagi: “Mengapa Anda lebih taat kepada Allah?” Mungkin dia akan
menjawab: “Allah adalah Tuhan kita, juga Tuhan imam-imam kita. Maka sudah
sepantasnya kita mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan imam-imam itu.”
Kemudian
tanyakan ke orang itu: “Mengapa dalam kehidupan orang Syiah, dalam kitab-kitab
Syiah, dalam pengajian-pengajian Syiah; mengapa Anda lebih sering mengutip
pendapat imam-imam daripada pendapat Allah (dari Al Qur’an)? Mengapa orang
Syiah jarang mengutip dalil-dalil dari Kitab Allah? Mengapa orang Syiah lebih
mengutamakan perkataan imam melebihi Al Qur’an?”
Faktanya,
sikap ideologis kaum Syiah lebih dekat ke kemusyrikan, karena mereka lebih
mengutamakan pendapat manusia (imam-imam Syiah) daripada ayat-ayat Allah.
Padahal dalam Surat An Nisaa’ ayat 59 disebutkan, jika terjadi satu saja
perselisihan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikap Islami, bukan
melebihkan pendapat imam di atas perkataan Allah.
LOGIKA
6: “Ali dan Jabatan Khalifah”
Tanyakan
kepada orang Syiah: “Menurut Anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan
Khalifah setelah Rasulullah wafat?” Dia pasti akan menjawab: “Ali bin Abi
Thalib lebih berhak menjadi Khalifah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa bukan Abu
Bakar, Umar, dan Ustman?” Maka kemungkinan dia akan menjawab lagi: “Menurut
riwayat saat peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan bahwa Ali adalah
pewaris sah Kekhalifahan.”
Kemudian
katakan kepada orang Syiah itu: “Jika memang Ali bin Abi Thalib paling berhak
atas jabatan Khalifah, mengapa selama hidupnya beliau tidak pernah menggugat
kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman? Mengapa
beliau tidak pernah menggalang kekuatan untuk merebut jabatan Khalifah? Mengapa
ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar,
Umar, dan Ustman, padahal dia memiliki kekuasaan? Kalau menggugat jabatan
Khalifah merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Thalib akan menjadi orang
pertama yang melakukan hal itu.”
Faktanya,
sosok Husein bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma berani menggugat kepemimpinan Dinasti
Umayyah di masa Yazid bin Muawiyyah, sehingga kemudian terjadi Peristiwa
Karbala. Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar,
tentu Ali Radhiyallahu ‘Anhu lebih berani melakukan hal itu.
LOGIKA
7: “Ali dan Husein”
Tanyakan
ke orang Syiah: “Menurut Anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?” Maka
dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Thalib lebih utama. Ali adalah ayah
Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak perang di zaman Nabi,
juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam.” Atau bisa saja, ada
pendapat di kalangan Syiah bahwa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.
Kemudian
tanyakan ke dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syiah
membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada
setiap tanggal 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih
megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Thalib? Bukankah Ali juga mati
syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat saat mengemban tugas
sebagai Khalifah.”
Faktanya,
peringatan Hari Asyura sudah seperti “Idul Fithri” bagi kaum Syiah. Hal itu
untuk memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syiah konsisten,
seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu
lebih dahsyat lagi.
Logika
8: “Syiah dan Wanita”
Tanyakan
ke orang Syiah: “Apakah dalam keyakinan Syiah diajarkan untuk memuliakan
wanita?” Dia akan menjawab tanpa keraguan: “Tentu saja. Kami diajari memuliakan
wanita, menghormati mereka, dan tidak menzhalimi hak-hak mereka?” Lalu tanyakan
lagi: “Benarkah ajaran Syiah memberi tempat terhormat bagi kaum wanita
Muslimah?” Orang itu pasti akan menegaskan kembali.
Kemudian
katakan ke orang Syiah itu: “Jika Syiah memuliakan wanita, mengapa mereka
menghalalkan nikah mut’ah? Bukankah nikah mut’ah itu sangat menzhalimi hak-hak
wanita? Dalam nikah mut’ah, seorang wanita hanya dipandang sebagai pemuas seks
belaka. Dia tidak diberi hak-hak nafkah secara baik. Dia tidak memiliki hak
mewarisi harta suami. Bahkan kalau wanita itu hamil, dia tidak bisa menggugat
suaminya jika ikatan kontraknya sudah habis. Posisi wanita dalam ajaran Syiah,
lebih buruk dari posisi hewan ternak. Hewan ternak yang hamil dipelihara
baik-baik oleh para peternak. Sedangkan wanita Syiah yang hamil setelah nikah
mut’ah, disuruh memikul resiko sendiri.”
Faktanya,
kaum Syiah sama sekali tidak memberi tempat terhormat bagi kaum wanita. Hal ini
berbeda sekali dengan ajaran Sunni. Di negara-negara seperti Iran, Irak,
Libanon, dll. praktik nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan
pelacuran. Padahal esensinya sama, yaitu menghamba seks, menindas kaum wanita,
dan menyebarkan pintu-pintu kekejian. Semua itu dilakukan atas nama agama.
Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
LOGIKA
9: “Syiah dan Politik”
Tanyakan
ke orang Syiah: “Dalam pandangan Anda, mana yang lebih utama, agama atau
politik?” Tentu dia akan berkata: “Agama yang lebih penting. Politik hanya
bagian dari agama.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana kalau politik akhirnya
mendominasi ajaran agama?” Mungkin dia akan menjawab: “Ya tidak bisa. Agama
harus mendominasi politik, bukan politik mendominasi agama.”
Lalu
katakan ke orang Syiah itu: “Kalau perkataan Anda benar, mengapa dalam ajaran
Syiah tidak pernah sedikit pun melepaskan diri dari masalah hak Kekhalifahan
Ali, tragedi yang menimpa Husein di Karbala, dan kebencian mutlak kepada
Muawiyyah dan anak-cucunya? Mengapa hal-hal itu sangat mendominasi akal orang
Syiah, melebihi pentingnya urusan akidah, ibadah, fiqih, muamalah, akhlak,
tazkiyatun nafs, ilmu, dll. yang merupakan pokok-pokok ajaran agama? Mengapa
ajaran Syiah menjadikan masalah dendam politik sebagai menu utama akidah mereka
melebihi keyakinan kepada Sifat-Sifat Allah?”
Faktanya,
ajaran Syiah merupakan contoh telanjang ketika agama dicaplok (dianeksasi) oleh
pemikiran-pemikiran politik. Bahkan substansi politiknya terfokus pada sikap
kebencian mutlak kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap merampas hak-hak
imam Syiah. Dalam hal ini akidah Syiah mirip sekali dengan konsep Holocaust
yang dikembangkan Zionis internasional, dalam rangka memusuhi Nazi sampai ke
akar-akarnya. (Bukan berarti pro Nazi, tetapi disana ada sisi-sisi kesamaan
pemikiran).
LOGIKA
10. “Syiah dan Sunni”
Tanyakan
ke orang Syiah: “Mengapa kaum Syiah sangat memusuhi kaum Sunni? Mengapa
kebencian kaum Syiah kepada Sunni, melebihi kebencian mereka kepada orang kafir
(non Muslim)?” Dia tentu akan menjawab: “Tidak, tidak. Kami bersaudara dengan
orang Sunni. Kami mencintai mereka dalam rangka Ukhuwwah Islamiyyah. Kita semua
bersaudara, karena kita sama-sama mengerjakan Shalat menghadap Kiblat di
Makkah. Kita ini sama-sama Ahlul Qiblat.”
Kemudian
katakan ke dia: “Kalau Syiah benar-benar mau ukhuwwah, mau bersaudara, mau
bersatu dengan Sunni; mengapa mereka menyerang tokoh-tokoh panutan Ahlus
Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman,
isteri-isteri Nabi (khususnya Aisyah dan Hafshah), Abu Hurairah, Zubair,
Thalhah, dan lain-lain? Mencela, memaki, menghina, atau mengutuk tokoh-tokoh
itu sama saja dengan memusuhi kaum Sunni. Tidak pernah ada ukhuwwah atau
perdamaian antara Sunni dan Syiah, sebelum Syiah berhenti menista para Shahabat
Nabi, selaku panutan kaum Sunni.”
Fakta
yang perlu disebut, banyak terjadi pembunuhan, pengusiran, dan kezhaliman
terhadap kaum Sunni di Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Pakistan,
Afghanistan, dll. Hal itu menjadi bukti besar bahwa Syiah sangat memusuhi kaum
Sunni. Hingga anak-anak Muslim asal Palestina yang mengungsi di Irak, mereka
pun tidak luput dibunuhi kaum Syiah. Hal ini pula yang membuat Syaikh Qaradhawi
berubah pikiran tentang Syiah. Jika semula beliau bersikap lunak, akhirnya
mengakui bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah sangat sulit disatukan. Dalam
lintasan sejarah kita mendapati bukti lain, bahwa kaum Syiah tidak pernah
terlibat perang melawan negara-negara kufar. Justru mereka sering bekerjasama
dengan negara kufar dalam rangka menghadapi kaum Muslimin. Hancurnya
Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad, sikap permusuhan Dinasti Shafawid di Mesir,
era Perang Salib di masa Shalahuddin Al Ayyubi, serta Khilafah Turki Utsmani,
di atas semua itu terekam fakta-fakta pengkhianatan Syiah terhadap kaum
Muslimin. Begitu juga, jatuhnya Afghanistan dan Iraq ke tangan tentara Sekutu
di era modern, tidak lepas dari jasa-jasa para anasir Syiah dari Iran.
Demikianlah
10 LOGIKA DASAR yang bisa kita gunakan untuk mematahkan pemikiran-pemikiran
kaum Syiah. Insya Allah tulisan ini bisa dimanfaatkan untuk secara praktis
melindungi diri, keluarga, dan Ummat Islam dari propaganda-propaganda Syiah.
Amin Allahumma amin.
Jika
ada benarnya, hal itu semata merupakan karunia Allah Azza Wa Jalla. Kalau ada
kesalahan, khilaf, dan kekurangan, itu dari diri saya sendiri. Wal ‘afwu minkum
katsira, wastaghfirullaha li wa lakum, wa li sa’iril Muslimin. Alhamdulillahi
Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab.
About the Author
Write admin description here..
Get Updates
Subscribe to our e-mail newsletter to receive updates.
Share This Post
Related posts

Gambling site, Casino, Slot Machines - JT Hub
ReplyDeleteGambling site, Casino, 강릉 출장안마 Slot Machines. See the best Vegas 광주광역 출장샵 casino slot machines! Our team 광주광역 출장안마 of expert Vegas casinos reviewed this site to find 보령 출장마사지 the Best 의정부 출장샵